Showing posts with label jiwaku bersastera. Show all posts
Showing posts with label jiwaku bersastera. Show all posts

Saturday, February 14, 2009

KONFLIK

Kosong adalah kosong

bukan satu, dua, tiga

kosong tetap kosong

bukan empat, lima, enam


-Apa yang kosong?


Jiwamu!


Hatimu!


Terhijab dek nifak!


Nampakkah jalan?


-Tidak!


Kau akan terjatuh


ke dalam lubuk kealpaan


-Indah! Mengasyikkan!


Ya! Tapi sementara


Untungmu tidak ke mana


-Aku ingin bertaubat!


Masih ada masa...


-Tapi aku malu!


Kau malu dengan siapa?


-Tuhan!


Tapi, kau sewajarnya


lebih rasa malu di hari pembalasan


-Aku parah, kawan...


Jangan kau fikir


di saat ini kau keseorangan


Apalah gunanya aku di sisi


andainya tak mampu


menyuluh yang hakiki.

Wednesday, June 18, 2008

Bila Harga Minyak Naik...


Bila harga minyak naik

Stesen minyak bagai hantu yang meratah

Keping-keping not rencam warna

Semakin luak

Berliter-liter minyak diisi

Namun tetap tak mencukupi

Buat perjalanan sehari-hari

Yang panjang tidak berhenti

Selagi berdenyut, masih bernadi.


Bila harga minyak naik

Pasaraya menjadi malap

Lesu menanti pelanggan yang luntur harap.


Bila harga minyak naik

Nasi berlauk ikan kering adalah nikmat

Bagi sebuah keluarga marhaen

Di pinggir bandar, di hujung kampung

Yang sering bersyukur.


Bila harga minyak naik

Ibu bapa yang kian dijamah usia

Terus dihambat sepi

Merindu harap kembalinya si anak

Ke desa halaman

Mengucup tangan-tangan yang menyuap, membesarkan

Namun

Hanya kerinduan yang berpucuk di perdu hati

Kemudian layu, dan terus mati.


Bila harga minyak naik

Alam gelap-gelita

Bagai diserkup bala.

Tuesday, May 6, 2008

Pantun ‘si kerbau pendek’

Main bola di tepi tingkap
Rumah baru berlantai seramik
Di tempat kerja orang bercakap
Isu babi menjadi topik.

Tinggi-tinggi pohon berduri
Tinggi lagi langit nan tinggi
Degar-berdegar di kedai kopi
Isu babi tak habis lagi!

Masuk hutan memungut dedalu
Petik bersama si bunga kantan
Patah selera, makan pun tak lalu
Bayangan babi di celah pinggan!

Hari-hari menganyam ketupat
Ketupat jantan berisi pulut
Kandang babi isu setempat
Media melapor tak surut-surut.

Berita tak tamat isu pun tak tutup
Kerabat babi ria menyambut
Kembang hidungnya kembang kuncup
Menjadi popular disebut-sebut!

Friday, April 11, 2008

si kain putih

Si kain putih
Kala disuluh cahaya dunia
Tangisan suaranya memecah alam
Gembira
Ingin bertemu sang ratu
Yang melahirkan.

Namun
Kemunculan si kain putih
Bukanlah kedatangan yang diundang
Melainkan
Sebuah kesusahan, ketakutan
dan ancaman.

Entah apa dosanya
Si kain putih dibiar kaku
Kesejukan
Di lorong-lorong kotor
Dalam timbunan sampah
Di tepian parit
Di rumah tak berpenghuni
Dalam kejelekan apungan najis.

Oh
Kasihan Si kain putih
Pucat wajahnya
Ketar tubuhnya menggigil
Menahan tikaman dingin yang mencucuk
Tembus ke tulang
Ke jantung.

Kaku si kain putih kaku
Tidak bernadi
Tubuhnya kian berbau
Dimamah ulat
Memutih
Dihurung berenga.

“Menyedihkan”
“Siapa yang begitu kejam?”
“Binatang!”
Lontaran suara protes bergema
Membantah kezaliman
dan
kebinatangan.

Insan-insan di sisi
Hanya mampu meratapi
Pemergian si kain putih
Yang tragis.